Pernah dengar orang bilang mau ikut open trip ke Bromo atau Karimunjawa, tapi budget-nya pas-pasan buat sewa mobil sendiri? Situasi semacam itu yang bikin banyak orang akhirnya penasaran, sebenarnya apa itu open trip dan kenapa metode ini jadi favorit anak muda yang doyan jalan-jalan tapi kantongnya masih terbatas.
Di artikel ini kita akan bahas tuntas soal arti open trip, bedanya dengan private tour, sampai kelebihan dan kekurangannya.
Cocok banget buat kamu yang baru mau coba ikutan trip bareng orang asing untuk pertama kalinya.
Arti Open Trip Sebenarnya Apa?
Kalau ditelusuri, arti open trip cukup sederhana.
Ini adalah sistem perjalanan wisata yang sifatnya terbuka untuk umum.
Jadi peserta yang tadinya tidak saling kenal, entah datang sendiri-sendiri atau bawa satu-dua teman, nanti akan digabung jadi satu rombongan besar oleh penyelenggara trip.
Biaya-biaya besar seperti sewa mobil elf, kapal untuk menyeberang pulau, honor pemandu wisata, sampai penginapan dibagi rata ke semua peserta.
Istilahnya sharing cost.
Makanya harga per orang jadi jauh lebih ringan dibanding kalau kamu sewa semuanya sendirian.
Cara Kerja Open Trip di Lapangan
Cara kerja open trip sebenarnya tidak rumit.
Penyelenggara akan membuka pendaftaran lewat media sosial atau website, biasanya dengan kuota terbatas, katakanlah 15 sampai 20 orang untuk satu keberangkatan. Setelah kuota terpenuhi atau tanggal keberangkatan mendekat, mereka akan bikin grup komunikasi berisi seluruh peserta.
Dari situ semua informasi teknis dibagikan, mulai dari titik kumpul, barang yang wajib dibawa, sampai rundown acara selama trip berlangsung.
Peserta tinggal datang sesuai jadwal, ikut arahan tour leader, dan menikmati perjalanan tanpa perlu pusing mengatur apa pun.
Perbedaan Open Trip dan Private Tour
Banyak yang masih bingung soal perbedaan open trip dan private tour.
Padahal bedanya cukup jelas kalau dilihat dari sisi peserta dan fleksibilitas jadwal.
Private tour itu perjalanan yang dipesan khusus untuk satu grup saja, entah keluarga, teman kantor, atau pasangan. Semua jadwal bisa diatur sesuai keinginan grup tersebut, mau berangkat siang, mampir dulu ke tempat lain, atau memperpanjang waktu istirahat pun bisa dinegosiasikan.
Konsekuensinya, biaya jadi ditanggung sendiri oleh grup itu, jadi otomatis lebih mahal.
Sementara open trip digabung dengan orang lain yang tidak dikenal sebelumnya. Jadwalnya cenderung baku dan tidak bisa diubah seenaknya karena harus menyesuaikan seluruh peserta, bukan cuma kamu.
Tapi ya itu tadi, harganya jauh lebih bersahabat.
Beda Open Trip dan Sharing Trip, Sama atau Tidak?
Ini juga pertanyaan yang sering muncul, beda open trip dan sharing trip itu apa sebenarnya.
Jujur saja, di lapangan dua istilah ini sering dipakai bergantian dan maksudnya kurang lebih serupa, yaitu sistem patungan biaya perjalanan dengan peserta gabungan.
Kalau mau dibedakan secara halus, sharing trip lebih menekankan pada konsep berbagi biaya saja, sedangkan open trip lebih ke konsep keterbukaan pendaftaran untuk siapa pun yang berminat.
Tapi secara praktik, keduanya nyaris identik dan sering dianggap sinonim oleh penyedia jasa wisata.
Kelebihan dan Kekurangan Open Trip
Sebelum memutuskan ikut, ada baiknya kamu tahu dulu kelebihan dan kekurangan open trip supaya ekspektasinya pas dan tidak kecewa di lapangan.
Kelebihan Open Trip
- Biaya open trip murah dibanding menyusun perjalanan sendiri, karena semua komponen mahal ditanggung bareng-bareng.
- Praktis. Itinerary, tiket masuk, sampai penginapan sudah diatur pihak penyelenggara.
- Cocok buat yang suka jalan sendirian. Kelebihan open trip untuk solo traveler memang terasa nyata, karena kamu tidak perlu menunggu teman yang belum tentu punya waktu sama.
- Bisa kenalan sama orang baru, kadang malah dapat teman seperjalanan sampai bertahun-tahun setelahnya.
- Jadwal sudah jelas, tinggal datang ke meeting point dan ikuti arahan.
Kekurangan Open Trip
- Jadwal kaku, susah request perubahan rute atau waktu istirahat.
- Harus siap berbaur dengan karakter orang yang beragam, ada yang cepat akrab, ada juga yang cuek.
- Fasilitas kadang standar saja, tidak seistimewa private tour.
- Kalau penyelenggaranya kurang berpengalaman, koordinasi di lapangan bisa berantakan.
Salah satu destinasi yang cukup populer dengan sistem ini misalnya pendakian gunung.
Contohnya open trip Gunung Prau yang banyak dipilih pendaki pemula karena jalurnya relatif ramah dan cocok untuk yang baru pertama kali naik gunung sendirian tanpa harus repot cari partner pendakian.
Tips Ikut Open Trip Pertama Kali
Buat kamu yang baru mau mencoba, ada beberapa tips ikut open trip pertama kali yang sebaiknya diperhatikan supaya pengalamannya menyenangkan, bukan malah bikin kapok.
1. Cek Rekam Jejak Penyelenggara
Cari rekomendasi open trip terpercaya lewat ulasan di media sosial atau grup komunitas traveling.
Perhatikan testimoni peserta sebelumnya, terutama soal ketepatan waktu dan kesesuaian antara promosi dengan kenyataan di lapangan.
Jangan cuma tergiur harga murah tanpa cek dulu siapa yang mengadakan.
2. Baca Itinerary Sampai Detail Kecil
Pelajari rute, jam keberangkatan, sampai waktu istirahat.
Tanyakan juga apa saja yang sudah termasuk dalam harga, apakah tiket masuk, konsumsi, atau dokumentasi sudah disertakan, atau justru masih biaya tambahan yang harus ditanggung sendiri.
3. Siapkan Fisik dan Mental yang Fleksibel
Karena bakal bepergian dengan orang-orang baru, penting untuk punya sikap terbuka dan tidak kaku. Kalau tujuannya melibatkan aktivitas fisik seperti trekking, pastikan kondisi tubuh memang siap.
4. Aktif di Grup Koordinasi
Biasanya sebelum keberangkatan, penyelenggara membuat grup WhatsApp berisi semua peserta. Manfaatkan untuk berkenalan lebih awal, tanya soal barang bawaan, atau konfirmasi titik penjemputan supaya hari H tidak kebingungan.
Open Trip Backpacker Indonesia, Tren yang Terus Berkembang
Fenomena open trip backpacker Indonesia sebenarnya sudah berjalan cukup lama, tapi makin ramai sejak media sosial jadi sarana promosi utama para penyelenggara trip. Destinasi seperti Labuan Bajo, Nusa Penida, Gunung Prau, sampai Karimunjawa jadi langganan open trip karena aksesnya yang butuh biaya besar kalau dilakukan sendirian, tapi jadi terasa ringan kalau dibagi rame-rame.
Buat backpacker dengan budget terbatas, cara ini memang jadi solusi paling masuk akal. Toh tujuan utamanya kan sampai ke destinasi impian, bukan soal siapa yang menemani di perjalanan.
Kesimpulan
Jadi, kalau ditanya lagi apa itu open trip, jawabannya sederhana saja, ini metode traveling gabungan yang memungkinkan siapa pun bisa berangkat ke destinasi impian dengan biaya yang jauh lebih hemat. Cocok untuk solo traveler, cocok juga untuk yang sekadar mau menambah relasi pertemanan lewat jalan-jalan.
Tinggal pastikan saja penyelenggaranya kredibel, baca detail itinerary dengan teliti, dan siapkan mental untuk berbaur dengan orang baru. Kalau semua itu sudah dipertimbangkan, pengalaman open trip pertama kamu kemungkinan besar akan berkesan, bukan sekadar cerita liburan biasa.







