oleh

Dua Hari Berturut Kecelakaan Warga Bertindak Timbun Lubang

SABAK AUH,Mandirinya.com – Kondisi jalan Provinsi Riau lintas Pekanbaru-Sungai Pakning, tepatnya di Kampung Selat Guntung kini sangat parah, meski sejak 3 bulan lalu aspal yang rusak sudah dipacing dan ditimbun base, namun hingga kini tidak kunjung diaspal ulang, sehingga lubang itu semakin parah dan kerap menjadi penyebab lama lantas.

Selama dua hari berturut-turut kecelakaan terjadi di titik yang sama, pengendara sepeda motor jatuh dan berlumuran darah. Di titik ini sebelumnya pernah terjadi laka maut, sebuah mobil pic up hilang kendali setelah menabrak lubang, mobil itu menghantam seorang pengendara sepeda motor hingga akhirnya menelan korban jiwa.

Masyarakat sekitar merasa tidak tega melihat banyak korban, mereka melakukan gotong royong menimbun, agar lubang tersebut tidak terlalu dalam dan pengendara bisa sedikit nyaman saat melintas. Tepatnya pada, Jumat pagi sekitar pukul 09.00 wib, (10/8/18) terlihat 10 orang warga mengorek batu kerikil di pinggir jalan, batu itu diangkut menggunakan gerobak dorong dan diratakan pada lubang di jalan yang kerap menelan korban itu.

“Kalau tidak kita timbun, takutnya nanti tempat ini dianggap angker. Dua hari berturut-turut kecelakaan, kemaren saya sangat kasian melihat pengendara sepeda motor kena serempet mobil di sini, mobil itu sepertinya nyuri jalan yang agak datar, hingga menyerempet motor, namun mobil itu langsung lari,” terang Yadi warga Selat Guntung.

Senada disampaikan Jailani, warga kampung Laksamana ini mengaku sering melihat laka di jalan itu. “Itu baju yang kemaren kecelakaan, sengaja dibuang di situ, banyak darahnya,” terang pemuda ini sambil menunjuk sebuah jaket yang tergeletak dipinggir jalan.

Ia berharap pemerintah segera tanggap, melihat kondisi jalan yang menjadi batas wilayah antara kampung Selat Guntung dan Laksamana ini sangat lah parah. Terdapat belasan titik lubang besar, lubang itu telah bergelombang. “Bukan cuma sepeda motor yang merasa payah, dapat debu, mobil juga kesulitan, tidak bisa milih bahagian mana badan jalan bahagian yang bagus,” ujarnya.

“Kami tidak ingin jalan ini disebut tempat angker, langganan kecelakaan. Semoga dengan perbaikan ini pengendara bisa lebih nyaman. Ini sifatnya sementara, pemerintah harus cepat memperbaiki,” ujarnya.

Usai Goro, salah satu dari mereka berinisiatif mencabut sebatang pohon pisang, ditanam pas di tengah jalan. “Ojo kok ganggu, aku sing nandor, sesok uwoh aku sing manen,” teriak Sugeng kepada pengendara mobil yang melintas. Ucapan itu langsung mendapat respon acungan jempol dari sang supir mobil.

Sugeng berucap, tanaman batang pisang itu sebagai bentuk protes, agar pemerintah Provinsi Riau bisa merawat aset, aset jalan yang ada tidak menjadi musibah bagi masyarakat.(rls)

Komentar

Tinggalkan Balasan

loading...

News Feed