oleh

Bermain Dengan Air,Perawat Cantik Di Sungai Apit Mendapat Penghargaan

SIAK,Mandiripos.com-Mendengar kata air pasti yang terlintas dibenak kita adalah air jernih dan menyegarkan. Secara umum memanglah demikian, namun lain halnya sumber-sumber air yang ada di lahan gambut kabupaten Siak.
Apalagi jika kemarau datang, masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih. Terkadang masyarakat pun harus minum air gambut secara langsung tanpa di masak.
Hal itu mengakibatkan penyakit, karena kondisi air gambut saat ini sudah tercemar, baik dari usaha perkebunan perusahaan maupun masyarakat sendiri.
Dari itulah seorang perawat kecamatan Sungai Apit, mencoba melakukan usaha penjernihan air (air bersih)  secara sederhana. Dengan membuat alat yang  murah, hanya Rp.200 ribu. Inovasi ini diberi nama Water Peat Purification Siak (WPPS).
“Syarat air bersih adalah tidak berwarna,  tdk berbau  dan tidak berasa, jadi air gambut itu tidak memenuhi syarat, karena warna dan rasanya payau,” ujar Desi Yarsina, Senin (2/10/2017) kemarin kepada Humas.
Dijelaskan Desi, dengan masalah tersebut maka dirinya mencoba mengkombinasikan teori kimiawi dengan teori alir rambat sebagai filtrasinya.
Selanjutnya, jika telah terjadi pengendapan humat gambut ke bawah,  air jernih kita alirkan ke dalam pipa  filtrasi yg berisi pasir dan karbon aktif (arang). Setelah itu air bersih dapat dipergunakan.
Inovasi yang dilakukannya mendapat pengakuan sebagai Pemenang I Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Paramedis Tingkat Propinsi Riau tahun 2016.
Alumni Unand Padang itu, sebelum mengabdi di Siak (ASN), sempat bekerja sebagai dosen  D3 Keperawatan di Universitas Abdurrab Pekanbaru tahun 2005-2008.
Inovasi ibu tiga anak itu  ternyata sangat diapresiasi Bupati Siak,  Syamsuar, sehingga dia sudah meminta untuk dilakukan kajian atau mengecek kualitas air.
“Jika berhasil kita bantu tiap rumah di kecamatan mengunakan inovasi ini, terutama kecamatan di lahan gambut,” kata Syamsuar dan merasa bangga atas kreatifnya perawat tersebut.
Sesuai data yang diperoleh Syamsuar di lapangan, proses penjernihan air ini modalnya tak sampai Rp 250 ribu per harinya bisa menghasilkan untuk 2 galon air.
“Saya tau yang menemukan inovasi tersebut, dia seorang perawat di Sungai Apit, dan pernah tercatat sebagai perawat terbaik nasional tahun 2016,” ucap Syamsuar.
Ia berpesan, jangan pernah puas dengan apa yang telah kita buat. Teruslah bekerja dan berkarya untuk semua orang. Kembamgkan potensi dan tingkatkan kreativitas sehingga akan lahir inovasi inovasi baru.(rls)

Komentar

Tinggalkan Balasan

loading...

News Feed